Monday, October 15, 2012

"Saya senang sekali ketemu kyai Adung. Saya tidak menyangka, kyai Adung sepaham dengan saya, liberal sejati."

"Kok, sampeyan bisa ngomong gitu?"

"Terus terang, awalnya saya terkejut dengan sikap kyai yang memaksa santri kyai supaya melepas jilbabnya."

"Bukan santri saya, tapi kawan saya."

"Ah, itu tidak penting. Entri pointnya, kyai sudah berpikir terbuka soal jilbab. Yaaa, setahu kita yang liberal, jilbab itu, kan produk budaya. Budaya Arab. Jadi, langkah kyai meminta kawan kyai melepas jilbab, itu sudah sangat tepat. Saya salut."

"Sampai kapanpun, saya akan berupaya mati-matian supaya kawan saya itu melepas jilbabnya. Norak gitu loh!"

"Ha ah ah ha ... setuju kyai. Nanti akan saya carikan sponsor Asing untuk mensupport kyai Adung. Jangan takut kyai, dana untuk proyek librealisasi, melimpah ruah. Yang penting kita berani berpikir aneh dan melawan arus, dolar pasti nyamperin kita."

"Asal sampeyan tahu, tanpa sponsorpun, saya kan terus berupaya. Sekali saya paksa lepas jilbab, harus lepas. Kalo perlu sampe titik darah penghabisan."

"Great! Aduh saya bangga dan senang sekali dapet kawan baru."

Si mentor liberal itu SKSD. Sambil mencium takzim tangan kyai Adung, dia merangkul kyai adung erat sekali. Kyai Adung sampe gelagapan dan berujar, "dasar pendukung homo".

"Oh iya, bay de wey, siapa nama kawan kyai itu?"

"Nur."

"Olah Nuuur, sudah lah turuti kawan sampeyan ini. Beliau ini kyai. Masa sampeyan mau ngelawan, Kyai. Maaf, Kyai, nama lengkap si Nur itu, nur siapa ya, Kyai?"

"BAMBANG NUR RAHMAN!"

Gubrak!
Kyai Adung siul-siul lagu gambus Penganten Baru.
Ha haaaaaayyyyy ....
Categories:

0 comments:

Post a Comment