Friday, September 26, 2014


Draft Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal telah disetujui dalam rapat pleno Badan Legislatif DPR RI (26/9). Selanjutnya draft RUU ini akan dibawa dan dibahas ke dalam Rapat Paripurna. Walau telah disetujui, beberapa catatan tetap diberikan beberapa fraksi sehingga masih perlu penyempurnaan lebih lanjut.

Dari 9 fraksi yang duduk di dalam Baleg, hanya Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menyatakan ketidaksetujuannya untuk melanjutkan RUU JPH ini ke tahap selanjutnya.

Fraksi PDIP yang diwakili oleh Arif Wibowo menempati posisi untuk tidak menyetujui adanya RUU JPH tersebut dengan tiga alasan yang diberikan, yaitu penerapan mandatory (wajib) yang tidak tepat, lembaga yang sudah ada terlalu banyak sehingga menimbulkan koordinasi yang sulit, serta bertentangan dengan UU yang sudah ada (UU Pangan). “PDIP belum dapat menyetujui dan mengembalikannya kepada pengusul,” kata Arif Wibowo dalam pandangan fraksinya.

Anggota Fraksi PKS Buchori Yusuf mengungkapkan, RUU JPH harus mengatur dan menguatkan kelembagaan yang memberikan sertifikasi, registrasi, dan labelisasi produk halal agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan yang berakibat penyelenggaraan JPH menjadi tidak efektif. “F-PKS mengusulkan agar MUI menjadi lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikasi halal tersebut dalam LPH atau Lembaga Pemeriksa Halal berada dibawah koordinasi MUI,” kata Buchori.



Sementara Fraksi Partai Demokrat, yang disampaikan oleh Yenna Anwar, menegaskan bahwa UU ini sangat diperlukan, karena praktek sertifikasi yang selama ini  ada, belum memiliki perlindungan hukum. Apalagi dengan adanya liberalisasi ekonomi dan beredarnya sejumlah produk telah menimbulkan fenomena yang menggemparkan di pasar Indonesia. “Sertifikasi produk halal dan non halal pun tidak terbatas dari produk hewani saja tetapi juga yang berasal dari bahan kimiawi,” ungkap Yenna Anwar

Fraksi lainnya yaitu F-PKB, F-Gerindra, F-Hanura, F-PPP, F-PAN dan F-Golkar pun menyatakan catatannya masing-masing. Akhirnya dengan masih adanya beberapa catatan yang diberikan, Rapat Pleno Baleg meloloskan RUU JPH ke tahap selanjutnya. “Rapat Pleno Baleg menyetujui draft RUU dengan pengusul agar dapat mewadahi seluruh catatan yang diberikan,” tutup Ignatius Mulyono, selaku pimpinan Rapat. [islamedia)

Thursday, September 25, 2014


Di gurun seluas 2600 are lah pesawat militer dari beberapa generasi di simpan, dan tempat itu sering di sebut "The Boneyard".Pesawat kadaluarsa senilai 35 miliar dollar disimpan sebagai suku cadang untuk
model-model terbaru di Davis-Monthan Air Force Base, Tucson, Arizona.Tempat itu seperti kuburan baja, lebih dari 80 persen dari 4200 pesawat sudah tidak berfungsi dan 350.000 item(spare part) dari pesawat itu siap dipakai jika dibutuhkan.

Daerah itu ditemukan oleh pengguna google earth sejak tahun 2005 saat software itu diluncurkan, tapi sekarang untuk pertama kalinya gambar daerah itu bisa terlihat dengan resolusi tinggi.(dhanis 565)

California - Perangkat gadget yang sudah tak terpakai tentu bakal dibuang ke TPA. Tapi tahukah Anda TPA terbesar di dunia?

Gizmodo melansir, reseller gadet Gizmodo, mengunggah video di YouTube mengenai tempat pembuangan akhir (TPA) khusus gadget terbesar di dunia, yakni di Agbogbloshie, Ghana.

Beberapa bagian dari sampah gadget di Agbogbloshie akan dijual kembali atau didaur ulang.

Untuk sisa yang tak terpakai akan dibakar, yang hasil pembakarannya akan menjadi polusi udara yang berbahaya.

Maka gunakanlah secara bijak ponsel Anda setelah tak lagi terpakai.(atjehcyber)

Islam diprediksikan bakal menjadi agama terbesar kedua di Irlandia pada 2043, setelah Katolik.Kantor Pusat Statistik Irlandia menegaskan, saat ini Islam merupakan agama yang paling cepat berkembang di negara itu.

Populasi umat Muslim di sana meningkat 10 kali lipat dalam dua dekade. “Penduduk Irlandia yang beragama Islam naik dari 0,1 persen pada 1991, menjadi 1,1 persen dari keseluruhan populasi pada 2011,” tulis laporan tersebut, seperti dilansir World Bulletin, Senin (30/12).

Angka di atas belum lagi termasuk penduduk asli Irlandia yang berpindah keyakinan menjadi Muslim. Sensus tersebut mengklaim, pertambahan penduduk yang dicatat itu baru berdasarkan angka kelahiran dan imigrasi saja.

Kantor Pusat Statistik Irlandia mencatat adanya penurunan jumlah penganut Katolik di Irlandia. Sensus terakhir menunjukkan adanya penurunan cukup banyak dari 91 persen pada 1991, menjadi 84 persen pada 2011.

Sementara itu, Kristen Ortodoks saat ini merupakan kelompok agama terbesar kedua di negeri itu. Mereka umumnya berasal dari kaum imigran dari negara-negara bekas Soviet.
Akan tetapi, di masa datang, penganut Islam di Irlandia diperkirakan bakal melampaui penganut Kristen Ortodoks.

“Populasi Muslim di negara ini akan naik dari 49 ribu menjadi 100 ribu jiwa pada 2020,” demikian kantor statistik tersebut memaparkan proyeksinya.

Populasi umat Muslim di sana meningkat 10 kali lipat dalam dua dekade. “Penduduk Irlandia yang beragama Islam naik dari 0,1 persen pada 1991, menjadi 1,1 persen dari keseluruhan populasi pada 2011,” tulis laporan tersebut, seperti dilansir World Bulletin, Senin (30/12).
(atjceh cyber)

SENIKMAT apapun jima, akan menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan jika dilakukan dengan rutin yang ‘itu-itu saja’. Apatah lagi bagi kaum istri yang perlu melayani suami.

Sekiranya jima dilakukan dengan cara biasa saja sudah tentu mood untuk melayani suami akan berkurang. Walaupun hasrat masih ada, tapi perasaan bosan akan rutinnya jima yang biasa bisa menyebabkan acara jima tertunda.

Oleh itu suami haruslah pAndai-pAndai menjaga suasana, jangan sampai iteri bosan untuk melakukan jima. Caranya tak sesukar yang dipikirkan sebab kebosanan itu sebenarnya timbul dari hal kecil yang timbul di sekitar Anda.

Simak fakta-fakta yang kerap membuatkan istri bosan melakukan jima.

1. Mudah Ditebak
Bertahun-tahun hidup bersama membuat isteri mengenali pasangan secara mendalam. Dia juga mungkin bisa menebak apa tindakan Anda dan ini termasuk dalam aktivitas jima. Kadangkala ketika berbaring di tempat tidur saja, isteri sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh suami. Ini juga bisa jadi masalah. Salah satu alasan mengapa malam pertama sangat ‘hot’ adalah Anda dan isteri tak pernah tahu apa yang terjadi. Jika Anda ingin terus meningkatkan kehangatan hubungan jima dengan pasangan, sebaiknya Anda menjaga suasana jima tetap segar.

2. Takut Mencoba Hal Baru
Sebaiknya jangan biarkan pasangan tahu apa yang akan Anda lakukan selanjutnya ketika berjima. Misalkan sekiranya Anda hanya melakukan pemanasan yang singkat, kali ini lakukan dengan lebih lama. Lakukan perkara yang sama sekali tidak dapat diduga oleh isteri dan Anda juga mungkin takkan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Terus berikan kejutan yang membuat isteri semakin bergairah.

3. Frekuensi Terlalu Sering
Kebanyakan wanita setuju bahawa jima tanpa hasrat sangatlah membosankan. Jima yang sering juga menyebabkan isteri berasa bosan karena akan timbul perasaan diri diperlakukan seperti boneka. Oleh karena itu aturlah jadwal jima agar tidak terlalu sering dan tidak terlalu sedikit juga.

4. Sunyi Tanpa Suara
Jima yang sunyi tanpa suara bisa menimbulkan kebosanan. Sebabnya sederhana, keduanya tidak akan tahu apa jima yang dilakukan itu disukai atau sebaliknya. Oleh karena itu belajarlah untuk bersuara, atau mengucapkan kata-kata. Tapi jangan pula sampai suara tersebut kedengaran oleh anak, tetangga atau orang sekampung.

5. Terlalu Sering dengan Posisi Baru
Sekali dua kali posisi yang sama mungkin akan memberi kesan yang sangat membahagiakan. Namun jika terlalu kerap melakukannya, sudah tentu sensasinya kurang.

6. Kasar
Jika biasanya Anda hanya langsung ‘menerkam’ isteri ketika menginginkannya, maka coba ubahlah perilaku tersebut. Perlakukan isteri dengan lembut. Minta izin dari isteri untuk bercinta. Allahu alam bi shawwab.
 HARI itu, Selasa 9 September 2014 menjadi hari yang sangat berkesan bagi kami, Tim JITU yang diberangkatkan ke Suriah. Kami berempat, Muhammad Pizaro (Islampos), M. U. Salman (Bumisyam.com/Salam-Online), Fajar Shadiq (Kiblat.net) dan Abu Harits (FIPS) mendapatkan momen berharga yang takkan terlupakan.

Sekitar pukul 14.00 waktu Doha, kami menaiki Qatar Airways nomor penerbangan 240 jurusan Istanbul. Kami diberi kursi yang letaknya berderetan di kursi no 26. Ketika kami belum lama duduk, tiba-tiba Pizaro yang duduk di sebelah kiri saya setengah berteriak, “Eh ada Ismail Haniyeh.” Kami pun lantas celingukan mencari siapa yang dimaksud Pizaro. Mungkin dia sedang bercanda. “Eh bukan Haniyeh, Khalid Misy’al.”

Sejurus, kami cukup terpana. Pizaro tidak sedang bercanda. Seorang pria berambut putih penampilan flamboyan itu memang Khalid Misy’al. Ia dikawal sekitar pria berbadan tegap dengan jenggot panjang. Mereka berjas dan berkemeja rapih. Subhanallah. Kami betul-betul tak menduga bahwa kami akan satu pesawat dengan tokoh sekaliber Ketua Biro Politik Hamas.

Khalid dan pengawalnya duduk di sisi kiri pesawat di kursi nomor 25A, tepat bersebelahan dengan kami di deretan no 26. Kami yang kegirangan bak dapat durian runtuh, lantas kasak-kusuk berdiskusi bagaimana caranya agar bisa mewawancarai sosok yang jadi target Zionis itu.Kami tak ingin melewatkan momen langka ini.

Misy’al ternyata pribadi yang cukup ramah. Saat ia akan duduk ia menyapa kami terlebih dahulu. Tapi pengawalnya tetap saja menatap kami dengan mata waspada. Para pengawalnya duduk di depan dan di belakang kursi yang diduduki Misy’al. Usia mereka sekitar 30-40 tahunan. Gerak gerik tubuhnya terlihat bahwa mereka cukup profesional. Sebagian di antara mereka menyelipkan pistol di pinggang kanannya.

Saat itu, kursi di sekitar kami cukup kosong. Abu Harits dan Ubay Salman segera pindah ke bangku depan agar sejajar dengan Misy’al. Salah seorang pengawal Misy’al berpindah mendekati Abu Harits dan Ubay sehingga ia menjadi batas antara Misyal dan keduanya. Saya dan Pizaro tetap di bangku kami masing-masing. Pengawal Misy’al yang mendekati Abu Harits lantas memperkenalkan dirinya. Ia mengaku bernama Abdul Aziz. Abdul Aziz nampaknya yang paling muda dari seluruh pengawal Misy’al. Tapi kami tak yakin juga, sebab muka orang Timur Tengah lebih ‘boros’ ketimbang wajah-wajah orang Asia. Abu Harits nampak mengobrol banyak dengan Abdul Aziz. Kami pun terus menekan Abu Harits agar bisa mencuri waktu dengan Khalid Misy’al supaya ia mau diwawancarai kami. Maklum, hanya Abu Harits yang paling fasih berbahasa Arab di antara kami.

Dari hasil obrolan Abu Harits dan Abdul Aziz, tampaknya kemungkinan untuk bisa mewawancarai Misy’al cukup terbuka. Tapi kami baru akan bisa mewawancarainya saat pesawat akan mendarat. Mungkin para pengawal Misy’al tak ingin ada ‘kehebohan’ yang tak perlu saat penerbangan berlangsung. Sebab, penerbangan dari Doha ke Istanbul memakan waktu yang cukup lama. Kurang lebih 4 jam 30 menit. Oke, kami bisa bersabar. Tapi mudah-mudahan itu bisa segera terjadi.

Khalid Misy’al dan Mushaf Al-Qur’an

Sepanjang perjalanan seluruh perhatian kami tersedot ke Khalid Misy’al dan para Mujahidin Hamas yang menjadi pengawalnya. Kami cukup terkejut, saat Misy’al lebih memilih kelas ekonomi sebagai tumpangannya menuju Istanbul. Dengan kedudukan yang dimiliki dan hubungan dekatnya dengan para petinggi Qatar, jika ia meminta duduk di kelas eksekutif atau pesawat jet pribadi sekalipun bukan permintaan yang sulit dikabulkan oleh para petinggi Qatar. Pengawalan yang tidak berlebihan pun menarik dalam pengamatan kami. Meski tidak berlebihan, para pengawal Misy’al ini bergerak sangat profesional. Mereka selalu awas dan siaga dan merespon secara cepat terhadap perubahan situasi.
Abdul Aziz, salah seorang pengawal Misyal yang duduk bersisian dengan Abu Harits menghabiskan waktunya dengan mendengarkan murottal Al-Quran dari layar multimedia. Dari kursi belakang, tempat saya duduk, saya melihat bibir Abdul aziz lamat-lamat bergerak mengikuti irama murottal. Sementara pengawalnya yang lain ada yang memakai headset (mungkin juga sedang mendengarkan murottal), ada yang hanya duduk saja, dan ada yang sibuk mondar-mandir di belakang.

Sedangkan Misy’al, tak lama setelah ia duduk ia membaca koran Asy-Syarq, yang berbahasa arab. Dalam lembaran koran yang ia baca, saya melihat ada satu kolom berita yang di dalamnya ada foto dirinya. Saya pikir mungkin ia ingin mengecek tulisan wartawan yang telah mewawancarainya. “Ah, mudah-mudahan kami juga mendapat keberuntungan itu,” batin saya.

Setelah lembar demi lembar koran habis ia baca, Khalid Misy’al memejamkan matanya. Ia istirahat sejenak. Saya pun segera mencari kesibukan sendiri, meski mata ini terus memantau aktivitas tokoh yang kepalanya paling dicari oleh Bangsa Yahudi ini. Tak lama Khalid terbangun. Ia lantas merogoh sakunya dan tampaknya mengambil sesuatu. Ternyata Mushaf Al-Qur’an. Ia lantas membacanya. Lagi-lagi saya terpukau. Berapa banyak tokoh politik di Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, yang menyempatkan diri membaca Al-Qur’an di pesawat? Atau di mobilnya? Atau di waktu-waktu senggang lainnya. Pemandangan ini membuat saya semakin kagum terhadap Mujahidin Hamas di Palestina. Tokoh politiknya pun tak pernah jauh dari Al-Qur’an. Semoga Allah memenangkan Hamas atas kebiadaban Zionis ‘Israel’.

Sejak itu, Misy’al memang banyak menghabiskan waktunya dengan mushaf Al-Qur’an. Kecuali saat ada pramugara/pramugari datang menawarkan makanan dan minuman. Saya masih ingat. Apa yang ia pesan sama dengan apa yang saya makan. Kari Domba dan Jus Jeruk. Mengingat Jus Jeruk pikiran saya jadi teringat Munir. “Ah lupakan!” Allah pasti akan menjaga para pejuangnya.

Setelah makan pun, Misy’al masih membaca mushaf. Hingga akhirnya kapten memberitahukan bahwa sekitar 20 menit lagi pesawat akan landing. Kami lagi-lagi mencolek Abu Harits. “Ayo dong Syekh, samperin,” ujar saya kepada Abu Harits. Sontak, Abu Harits ngobrol sebentar dengan Abdul Aziz dan langsung mendekati Khalid Misy’al. Bangku sebelahnya memang kosong. Pengawal yang tadinya duduk di situ pindah ke belakang sejak pesawat take off. Abu Harits lantas mengobrol berdua dengan Khalid Misy’al. Ia memperkenalkan diri bahwa kami dari tim jurnalis yang memiliki perhatian khusus terhadap Bumi Syam. Khalid sedikit menginterogasi Abu Harits. Abu Harits juga bercerita bahwa kami berempat akan melanjutkan perjalanan ke Suriah untuk melakukan kerja liputan di sana. Mendengar hal itu, Misy’al sangat senang dan mengapresiasi kami.

Sayang seribu sayang, permintaan wawancara kami tak dikabulkan Khalid Misy’al. Menurutnya, untuk langkah pertama kita berkenalan dulu. Tapi ia menawarkan korespondensi via telepon dan email. Abu Harits lantas menyodorkan nama website kami berempat, alamat email dan nomor telepon. Kami pun diberi nomor telepon dan emailnya. Khalid Misy’al meminta maaf tidak bisa memenuhi permintaan kami untuk diwawancara. Tapi ia menyodorkan dukungan dan penghargaannya atas upaya kami. Abu Harits pun dihadiahi sebotol minyak wangi dan titipan salam kepada rakyat Indonesia. “Sampaikan salam saya kepada seluruh rakyat Indonesia,” ujar Misy’al.

Meski tak bisa diwawancarai, Misy’al masih berbaik hati kepada kami. Ia membolehkan kami untuk mengambil kenang-kenangan berupa foto. Saat itu pesawat sudah landing di Istanbul dan penumpang lainnya bersiap-siap mau turun. Sejurus kemudian, para pengawal Misy’al menutup jalan dan mempersilakan kami berdiri untuk berfoto dengan Khalid Misy’al. “Sur’ah..sur’ah!” (Ayo cepat..cepat) ujar salah satu pengawal ketika saya mengambil foto kawan-kawan bersama Misy’al.

Pesawat pun berhenti. Sebagian penumpang turun. Khalid Misy’al pun nampak bersiap untuk turun. Kami berpelukan dan menjabat tangannya, tanda perpisahan akan segera dimulai. Ia menyalami kami lantas bergegas turun dari pesawat. Kami juga bersiap, mengambil tas di kabin dan mengikuti rombongan Misy’al. Turun dari pesawat, rombongan Misy’al belok kiri lantas turun di tangga darurat. Sementara kami berbelok ke kanan ke anjungan bandara. Saya baru menyadari, mungkin ini memang prosedur standar keamanan orang-orang penting dalam penerbangan. Mereka tidak turun ke lobi tapi langsung keluar via jalur emergency.

Pertemuan kami dengan Khalid Misy’al memang terbilang singkat. Tapi sangat berkesan mendalam bagi kami. Ternyata sosok yang sangat ditakuti di kancah politik Timur Tengah itu sangat sederhana, bersahaja dan figur pribadi yang ‘alimdansederhana.

(Fajar Shadiq, jurnalis JITU untuk misi Suriah)

LIMA unit ambulans bantuan kemanusiaan untuk penduduk Jalur Gaza, Palestina, kini masih terkatung-katung di Mesir lantaran dihambat masuk ke Gaza oleh pihak berwenang Mesir tanpa alasan jelas.

“Tidak jelas alasan Mesir menghambat pengiriman ambulans ke Gaza padahal rakyat Gaza sangat membutuhkannya,” kata Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi sebagaimana dilansir Islampos melalui Antara di Kairo, Kamis (25/09/2014).

Saat ini KBRI sedang berusaha menemui pejabat kemenlu Mesir untuk menanyai alasan kenapa ambulans dilarang masuk Gaza, ujar mantan Kapolda Metro Jakarta Raya itu.

Sebelumnya, KBRI Kairo mengirim nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Mesir bernomor B460/9/2014 tanggal 9 September 2014 untuk memohon izin tahap awal pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza berupa satu unit ambulans, bahan makanan serta obat-obatan dan tiga orang yang mengantarkan bantuan itu.

Namun, dalam surat balasan nota diplomatik dari Kemenlu Mesir Nomor 1565 tanggal 21 September 2014 menyatakan bahwa Mesir hanya mengizinkan pengiriman bahan makanan, namun tidak untuk ambulans dan orang.

Larangan pengiriman ambulans dalam surat balasan Kemenlu Mesir itu tanpa disertai alasan.

Sementara itu, Sudayat Kosasih dari Aksi Tanggap Darurat (ATD) yang mengurusi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, mengungkapkan, persiapan pengiriman ambulans itu sejak Juli lalu saat agresi militer Israel ke Gaza.

Adapun bantuan bahan makanan dan obat-obat telah dikirim ke Gaza melalui lembaga bantuan kemanusiaan Mesir, katanya.

Lima unit ambulans itu merupakan bantuan dari empat lembaga swadaya masyarakat Indonesia, masing-masing dua unit ambulans dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), satu unit dari Bulan Sabit Merah Jakarta, satu unit bantuan Aksi Tanggap Darurat (ATD), satu unit lagi dari Pos Peduli Ummat Partai Keadilan Sejahtera (PDU-PKS).

Sudayat mengemukakan, bantuan ambulans itu sangat urgen bagi rakyat Gaza karena banyak ambulans di Gaza hancur akibat terkena roket serangan udara Israel.

Disebutkan, dua dari ambulans itu masih tersimpan di gudang Dermaga Alexandria, Mesir.

Batas waktu penetipan dua unit ambulans itu hingga 30 September 2014, bila melewati tanggal tersebut maka akan didenda 5.000 dolar AS.

“Bila hingga Senin (29/9) belum ada kejelasan izin masuk Gaza, maka lima unit ambulans itu akan diparkir sementara di KBRI Kairo,” tutur Sudayat.

Sulitnya pemberian izin pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza ini baru terjadi setelah pemerintahan baru Mesir pimpinan Presiden Abdel Fatah Al Sisi.

“Padahal di zaman Presiden Mohamed Moursi, pengiriman bantuan ke Gaza dipermudah,” kata Basri Daly, mahasiswa Indonesia yang membantu pengurusan bantuan ke Gaza. (islampos)