Kisah Nyata di Jakarta, ‘Pak Rasul dan Pesan Rasulullah’

Ba’da Jum’at itu, seorang kakek tertatih-tatih mendaki undak-undakan Gedung Menara Dakwah menuju Kantor LAZIS Dewan Da’wah di lantai satu. Setelah meletakkan karung bawaan di depan pintu kantor yang dituju, ia coba membuka pintu kaca. Pintu itu sebenarnya ringan saja, tapi tidak untuk lelaki berusia 64 tahun yang mengidap asam urat di kakinya. Maka, Ruslan Burhan, staf LAZIS Dewan Da’wah membantunya membukakan pintu dari dalam.
  ‘’Assalamu ‘alaikum, saya ke sini seharusnya untuk menyicil pinjaman. Tapi rejeki hari ini rupanya hanya cukup untuk makan di rumah. Jadi saya minta maaf, kali ini belum bisa mengangsur. Tapi insya Allah nanti akan saya lunasi,’’ tutur Mohammad Rasul, kakek itu, dengan nafas agak tersengal.

Ruslan dan Irwan terkesiap menyimak penuturan tamunya. ‘’Nggak apa-apa Pak Rasul, sudah minum saja dulu,’’ Irwan mempersilakannya meminum air kemasan yang tersedia di meja.

Dua pekan sebelumnya, kakek dua cucu asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat, ini datang untuk minta bantuan tambahan modal berdagang kaki lima. Ia pedagang paling tua di antara belasan pedagang pasar kaget setiap Jum’at di halaman belakang Masjid Al Furqon Jl Kramat Raya 45 Jakarta Pusat.

Sebelum berjualan alat-alat tulis seperti saat ini, sang perantau pernah berdagang pakaian dan membuka warung makan. ‘’Rupanya rejekinya di jualan alat-alat tulis ini,’’ kata Pak Rasul terkekeh.

Setiap hari, Pak Rasul yang tinggal tak jauh dari Gedung Menara Dakwah, mulai kerja kala pagi masih buta. Selepas shalat shubuh, dengan diantar ojek langganannya, ia menuju ke sekolah di sekitar Jalan Kenari. Di pelataran sekolah itu ia menggelar dagangannya hingga jelang Dzuhur.

“Kadang sehabis shalat Dzuhur saya lanjutkan jualan. Soalnya, ada sebagian sekolah yang bubaran sekitar jam setengah tiga atau jelang Ashar,” tutur Pak Rasul.

Khusus hari Jum’at, Pak Rasul menggelar lapak dagangannya di halaman belakang Masjid Al Furqon.

Selepas Ashar, ia pulang untuk istirahat. Ba’da Isya, Pak Rasul mengasongkan dagangannya di seputar perempatan Kramat Pulo, di depan Hotel Acacia.

Demi sepuluh-duapuluh ribu rupiah, kakek yang berjalan pincang itu berkelahi dengan kesemrawutan padatnya lalu lintas. Saat traffic light hijau, Pak Rasul minggir dan bersiaga di tempat. Begitu lampu merah menyala, ia tergopoh-gopoh mendatangi satu persatu mobil pribadi dan angkot yang berhenti untuk menawarkan dagangan.

Jelas, buat Pak Rasul, mencari rejeki dengan cara semacam itu ibaratnya ia tengah menyabung nyawa. Tahu sendiri betapa ganasnya lalu lintas ibukota.

“Ya memang bahaya, tapi alhamdulillah selama ini Allah SWT masih memberi kemudahan dan keselamatan. Habis bagaimana lagi,” tutur pak Rasul sambil tersenyum kecut.

Begitulah, seperti diibaratkan oleh James Scott, ‘’Orang miskin selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak kecil sekalipun sudah cukup untuk menenggelamkannya”.

Lewat tengah malam, barulah Pak Rasul pulang, membawa penghasilan yang tak menentu. Kalau sedang laku, dalam sehari ia dapat membawa pulang penghasilan kotor sekitar Rp 80 ribu.

Namun, Pak Rasul mengaku kadang mendapat rejeki nomplok yang tak disangka (min haitsu laayahtasib).  ‘’Saya pernah mengantongi uang sampai Rp 800.000 dalam sehari,’’ katanya dengan sumringah. Itu terjadi hingga tiga kali, ia menambahkan.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa rejeki sudah diatur Allah SWT. Keyakinan ini membuatnya legowo dan bersyukur menerima berapapun hasil usaha jualannya.

 “Alhamdulilah, berapapun hasilnya selama ini saya bisa bertahan hidup mandiri dari usaha ini,” kata si kakek berjanggut.

Ia menuturkan, walau sudah tua dan sakit, tidak mau menggantungkan hidup pada keluarganya dan orang lain.

“Saya nyaman dan tentram dengan berusaha sendiri, berjualan. Bukan mengemis atau meminta-minta,’’ katanya, menyiratkan naluri saudagar urang awak yang pantang menyerah.

Maka, ketika LAZIS Dewan Da’wah bermaksud memenuhi permintaannya dengan memberi tambahan modal, Pak Rasul maunya pinjam saja.

‘’Saya tidak mau diberi, saya maunya pinjam. Nanti saya kembalikan dengan mengangsur,’’ katanya tegas.

Pak Rasul niscaya mengingatkan kita semua kepada wasiat Rasulullah SAW. “Carilah ridhoku melalui orang-orang dhuafa di antara kalian. Karena sesungguhnya, kalian diberi rejeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian,” kata Nabi Muhammad SAW (HR
Imam Ahmad,  Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abu Darda’ ra, dalam Kitab Al-Musnad 5/198).

Orang dhuafa dimaksud adalah ‘’Orang yang tidak mendapati kebutuhan yang mencukupi buatnya, tapi orang lain tidak tahu karena dengan kesabarannya dia menyembunyikan keadaannya dan tidak meminta-minta. Dia akan diberi sedekah tanpa perlu meminta’’ (HR Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra).

Sumber: Muslimdaily.net



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Nyata di Jakarta, ‘Pak Rasul dan Pesan Rasulullah’ "

Post a Comment