Penghapusan Islam di China


 muslim-uighur
Juli 2009. Sebuah kejadian yang diawali oleh aksi demonstrasi yang berjalan tertib tetapi kemudian berubah menjadi sebuah mimpi yang mengerikan bagi setiap orang Islam di sana. Semuanya terjadi ketika kaum Islam Uighur di China meminta penjelasan mengenai tewasnya dua pekerja yang terlibat dalam kerusuhan di selatan negara tersebut.
Video-video yang kemudian beredar di Internet menunjukkan seorang wanita etnik Uighur beragama Islam dipukuli hingga tewas oleh para pekerja yang mayoritas orang Cina Han. Kejadian tersebut menjadikan Cina sebagai raksasa Asia, kembali menjadi sorotan mata dunia, walaupun sebagian besar diantaranya mungkin melihatnya dengan rasa suka cita !

Di jalan-jalan sekitar Urumqi yang terletak sekitar 3,219 kilometer dari barat Beijing, kendaraan-kendaraan dibakar dan dimusnahkan. Kota yang terletak di wilayah Xinjiang dengan populasi sekitar dua juta orang itu, sekali lagi menyaksikan tragedi pertumpahan darah sebagai buntut dari ketegangan antara etnik yang dipicu oleh tindakan diskriminasi terhadap orang-orang Muslim Uighur. Padahal sebelumnya, Urumqi sering menjadi contoh keharmonisan antara etnik oleh masyarakat China.
Tahun 2009 merupakan tahun ke-60 masuknya pasukan tentara China ke wilayah Xinjiang. Kebijakan yang diambil pemerintah Beijing sebagai ‘kebebasan yang  aman’ ini telah mampu membawa kemajuan dan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut. Bagi China sendiri, wilayah Xinjiang merupakan jalur emas ke Asia Tengah.
Akan tetapi, mayoritas penduduk Uighur yang berjumlah sekitar delapan juta orang itu berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah suatu yang memberi perkembangan positif. Karena pada kenyataannya, mereka justeru disisihkan secara sistematis dengan memobiliasasi orang-orang Cina Han untuk mengeksploitasi sumber-sumber energi maupun pertanian di Xinjiang.
Xinjiang sendiri diambil alih oleh kekaisaran China sekitar abad ke-19 dengan populasi penduduk saat itu berjumlah sekitar 19 juta orang. Pada tahun 1949, hanya 6% dari keseluruhan penduduk Xinjiang yang merupakan masyarakat Cina Han. Sementara hingga tahun 2009, jumlah kelompok masyarakat ini telah meningkat hingga mencapai 41%. Sedangkan etnis Uighur sendiri berjumlah sekitar 45% yang memiliki asal-usul sebagai keturunan bangsa Turki yang menganut agama Islam.
Para pejuang Uighur yang telah didiskriminasikan negara, mencoba mendesak pemerintah guna mendapatkan sebuah wilayah bebas di  Turkestan Timur. Desakan inilah yang kemudian justeru menjadi alasan pemerintah China untuk menuduh masyarakat ‘terbuang’ ini sebagai dalang di balik berbagai serangan yang bernuansa sara yang terjadi semenjak tahun 1990-an. Bahkan, pemerintah China menuduh para pejuang militan Uighur seperti Partai Islam Turkestan dan Pergerakan Islam Turkestan Timur telah mendapat pelatihan kemiliteran dari Taliban di Pakistan.
Sejak Xinjiang diambil alih oleh Parti Komunis pada tahun 1949, Presiden Mao Zedong pada saat itu berkeinginan untuk menyingkirkan umat Islam berdasarkan latar belakang etnis bukan berdasarkan identitas sebagai penganut Islam. Sepanjang Revolusi Budaya, identitas umat Islam terus didesak oleh serangan bertubi-tubi oleh pihak pemerintahan China.
Pada tahun 1966, poster-poster yang dipampang di ibu kota Peking (sekarang Beijing) secara terbuka mendesak agar ajaran agama Islam dihapuskan. Umat Islam juga dilarang untuk mempelajari bahasa dan tulisan Arab. Kondisi ini jelas memberi dampak yang sangat merugikan bagi umat Islam, mengingat bahasa dan tulisan dalam Al Qur’an adalah bahasa dan tulisan Arab. Intinya, kebijakan pemerintah China pada saat itu adalah supaya umat Islam tidak lagi bisa mempelajari Al Qur’an sebagai kitab suci yang menjadi dasar pedoman kehidupan bagi seorang muslim.
Ketika kebijakan Mao ini diperkenalkan, jumlah populasi umat Islam di negara komunis itu telah berkurangan secara signifikan hanya tinggal 10 juta orang. Sementara berdasarkan data statistik populasi penduduk yang dikeluarkan pada tahun 1936, jumlah umat Islam di China diperkirakan mencapai lebih dari 48 juta orang. Penghapusan sekitar 38 juta orang umat Islam yang sedemikian drastis itu tidak pernah terungkapkan.
Berulang kali pemerintah China menawarkan kebebasan kepada warga Uighur. Akan tetapi semuanya ditetapkan dengan berbagai syarat. Imam-imam diwajibkan memperoleh ijin dari pemerintah, para pekerja termasuk guru dilarang keras untuk bersembahyang di masjid, dan lebih buruk lagi, siapapun yang belum mencapai usia 18 tahun, tidak diperkenankan mempelajari ajaran agama Islam.
Jadi sangatlah jelas, kekerasan dan penindasan yang secara kasat mata terlihat dalam bentuk penyerangan, penyisihan, dan pembunuhan; maupun kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah China, serta sikap dan perilaku yang ditunjukkan etnik non muslim, menunjukkan bahwa Islam tengah dimusnahkan tidak lagi secara perlahan, namun dengan sedemikian cepatnya. Sehingga boleh jadi, hanya dalam kurun waktu 10 tahun ke depan atau bahkan kurang, Islam tidak ada lagi di negeri China dan akan menjadi agama terlarang di sana.
Satu pelajaran menarik yang kita peroleh adalah bahwa, hanya Islam lah agama yang benar dan menjadi rahmat sekalian alam. Lihatlah di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam, pernahkah ada kejadian percobaan pembersihan etnis non muslim ? Sama sekali tidak pernah, tidak ada satupun catatan yang menunjukkan bahwa pemerintah di negara-negara mayoritas muslim, maupun masyarakat muslimnya sendiri, mencoba melakukan pembersihan etnis non muslim. Bahkan kejadiannya justeru bisa sebaliknya, walaupun hidup di tengah-tengah mayoritas muslim, banyak diantara orang-orang non muslim yang tidak tahu diri dan tidak tahu rasa terima kasih dengan menyebar fitnah dan rekayasa untuk memojokkan orang-orang muslim. Itulah orang-orang jahat yang sangat licik dan munafik, ketika mereka berjumlah banyak, dengan leluasa dan semena-mena mereka menindas dan berlaku keji kepada orang-orang Muslim; dan ketika mereka berjumlah sedikit, mereka menjerit-jerit seakan-akan meraka ditindas dan diperlakukan keji oleh orang-orang Muslim.
… Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya“. (Q.S An Nisaa’, 4: 88)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (Q.S An Nisaa’, 4:145)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penghapusan Islam di China"

Post a Comment