Wednesday, February 22, 2012

Fak-fak boleh dikatakan sebagai "serambi Mekkah" selain yang di Aceh. Kawasan ini adalah pemasok muballigh dan guru agama ke pelosok-pelosok Irian Jaya. Ribuan komunitas muslim dari kalangan pribumi juga tersebar di 14 tempat terpisah di Kabupaten Jayawijaya.

Jika menyebut "Papua", yang terlintas di benak adalah suku-suku primitif yang telanjang. Tanah orang Kristen. Sehingga kemudian sampai pada pertanyaan, "Memang di Papua ada Islam ?".

Itulah beberapa opini yang ternyata sengaja dibentuk untuk mencitrakan bumi Cendrawasih ini. Mengapa demikian ? Hal ini berkaitan erat dengan kekayaan bumi yang dimiliki tanah Irian yang menyedot perhatian banyak pihak untuk mewujudkan masing-masing kepentingannya disana.

Jauhnya perjalanan menuju Irian bisa jadi salah satu faktor yang menghambat dakwah Islam disana. Dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya membutuhkan waktu 7 hari mengarungi lautan untuk sampai di Irian. Atau 8 jam perjalanan dengan pesawat dari Jakarta untuk tiba di kawasan paling timur Indonesia tersebut.

Adakah Islam di Irian?
Sebuah pertanyaan yang skeptis, "Adakah komunitas pribumi penganut Islam ?". Pertanyaan semacam ini bukanlah hal aneh mengingat sangat sedikitnya pengetahuan masyarakat umum di luar Papua tentang Islam di Irian Jaya. Orang tidak akan heran jika dikatakan Papua identik dengan Kristen atau Papua adalah Kristen. Semenjak heboh Perda Manokwari timbul juga opini salah di masyarakat yang menganggap memang di Irian Jaya jumlah pemeluk Kristen mencapai 60% lebih, artinya muslim memang minoritas disana.

Islam Agama Nenek Moyang Papua
Wah, ini baru menarik !. Lalu apa yang sudah terjadi selama ini?. Sebuah pembentukan opini, penutupan fakta sejarah yang dilakukan dengan sangat rapi. Di Irian Jaya yang jumlah total populasinya sekitar 2,4 juta jiwa.

Jumlah muslim sekurang-kurangnya adalah 900 ribu orang. Gubernur pertama Irian Jaya adalah seorang muslim yakni H.Zainal Abidin Syah (1956-1961) yang merupakan Sultan Tidore. Disusul Gubernur muslim lainnya, P.Parmuji, Acup Zaenal, Sutran dan Busiri. Sejak setelah Gubernur Busiri hingga sekarang, Kepala Daerah selalu dijabat oleh Kristen.

Saat ini disejumlah tempat misalnya, Kokas, Kaimana, Patipi, Rumbati dan Semenanjung Onin komunitas muslim semakin berkembang. Di Kabupaten Sorong sejumlah daerah yakni Waigeo, Misool, Doom, Salawati, Raja Ampat dan Teminabuan terdapat Kampung Islam. Di Manokwari kampung Islam terdapat di Bintuni, Babo dan Teluk Arguni. Di kabupaten Jayawijaya perkampungan Islam terdapat di Walesi, Hitigima, Kurima, Megapura, Kurulu, Assogima, dll.

Fak-fak boleh dikatakan sebagai "serambi Mekkah" selain yang di Aceh, karena kawasan ini adalah pemasok muballigh dan guru agama ke pelosok-pelosok Irian Jaya. Ribuan komunitas muslim dari kalangan pribumi juga tersebar di 14 tempat terpisah di Kabupaten Jayawijaya. Seperti di Desa Walesi dengan kepala sukunya Bapak H Aipon Asso, di sana terdapat 600 Muslim yang masuk Islam 26 Mei 1978.

Efek domino syahadat terus merambat ke Megapura. Di sana terdapat 165 Muslim penduduk asli yang dipimpin oleh kepala sukunya yang bernama Musa Asso. Komunitas Muslim asli juga terdapat di berbagai kecamatan seperti di Kurulu 61 orang, Kelila 131 orang, Bakondidi 57 orang, di Karubaga 59 orang, di Tiom 79 orang, di Makki 40 orang, di Kurima 18 orang, di Assologima 184 orang, di Oksibil 20 orang, di Okbibab 10 dan di Kiwirok 15 orang. Sedang di kota Wamena sendiri sekalipun bercampur dengan para pendatang dari Jawa, Bugis dan Sumatera jumlah komunitas Muslim di sini mencapai tidak kurang dari 5000 orang.

Dari kalangan kepala suku dan pendeta yang masuk Islam selain H.Aipon Asso dan Mussa Asso di atas, sebagian dapat disebutkan di sini seperti Ismail Yenu(68), seorang Kepala Suku Besar Yapen-Waropen Manukwari; Wilhelmus Waros Gebze (53), Kepala Suku Marin di Merauke; dan Romsumbe, pendeta yang masuk Islam bersama 4 orang anaknya di Biak Numfor.

Bersatunya Dua Ormas Besar
Satu hal yang menggembirakan, dan harusnya menjadi panutan seluruh muslim di Indonesia yakni di sini ada pemandangan menyejukkan dengan "bersatunya" dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah di dalam sebuah institusi pendidikan. Kedua ormas yang di luar tempat ini (Papua) kerap ribut, di sini mereka membentuk yayasan gabungan bernama Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) pada 15 Desember 1968.

Keberadaan Yapis ini bukan saja mendapat respon positif dari kalangan Muslim, tapi juga orang tua non-Muslim. Banyak dari mereka yang menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah ini dengan alasan bervariasi antara lain: disiplin yang tinggi dan melarang murid untuk mabuk-mabukkan, sementara mabuk merupakan budaya sebagian masyarakat yang masih terasa sulit dihilangkan.

Saat ini kedudukan Yapis di mana masyarakat Papua hampir sama sejajar dengan Lembaga Pendidikan Kristen Kristus Raja. Ada ratusan sekolah di bawah naungan Yapis dan dua Perguruan Tinggi (STIE dan STAIS) yang bernaung di bawah bendera Yapis. Selain NU dan Muhammaddiyah sejumlah institusi dakwah dapat disebutkan di sini seperti Dewan Dakwah Islamiyah, Hidayatullah, Persatuan Umum Islam, LDII, Pondok Pesantren Karya Pembangunan dll.

Nah, apakah Papua negeri tanah Kristen?. Papua negeri Muslim.

6 comments:

  1. saya kebetulan lg ada di papua, kebetulan ni tidak sengaja di Pulau Doom kota sorong ada peninggalan raja dari raja ampat. berupa silsilah keturunan raja, ternyata mereka telah memakai nama islam (Arab) jauh dari sebelum injil masuk. kalau ada kesempatan coba di cek, silsilah tsb ada ditangan keturunan raja dari raja ampat. begitu tiba di pulau Doom kalau bertanya pasti pada tau deh.... sekedar info saja

    terus, ada lagi yang menjadi pertanyaan bagi saya. Di Papua ada salah satu suku yang pusakanya berupa seperangkat alat shalat (sajadah Qur-an dll.) pusaka tersebut diturunkan turun-temurun sebagai kepala suku.
    Apa mungkin ya dulunya suku ini agama islam? masalahnya suku (sy tdk mau menyebutkan) ini sekarang mayoritas kristen

    ReplyDelete
  2. satu lagi ku punya gambar masjid pertama di tanah papua bisa disimak di yutubku hehe promosi dikit ah:
    http://www.youtube.com/watch?v=5it5ugO2OWs

    yang saya salut di Fakfak ini adalah semboyannya "Satu Tungku Tiga Batu, satu sodara satu hati". artinya kurah lebih 3 agama yang bergotong royong, bahu membahu, bekerjasama, dan bersodara. itu cerminan dunia untuk masalah toleransi antar umat beragama, coba deh datang ke Fakfak.
    memang muslim disini(papua) sangat minoritas, bayangkan apabila di media lagi rame demo di Pulau jawa sana dengan lantangnya pendemo berteriak "Allahuakbar!", atau seorang ulama punya istri lebih dari satu juga kejadian gereja di bom di solo dan pelarangan ibadah di Bogor. kebayang ngak saya harus bilang apa kalau teman/sodara saya yang non muslim bertanya kenapa begitu? (MUKAKU sebagai muslim taro dimana?!

    mulai dari sekarang:
    Mari kita pulihkan citra Islam!
    citra itu nama baik, kita malu sob. coba deh hidup sebagai minoritas 1 tahun aja kalian rasakan. pernah terpikir ngak apa yang kalian lakukan mengatas namakan agama dan dampaknya ke kita yang minoritas, yang tidak seperti kalian yang hebat mayoritas lagi.
    telinga ini panas men!... Banyak juga ancaman men!... kita tidak tenang men!.... kadang jadi pembalasan apa yang kalian laukan disana sebagai mayoritas yang huebat!
    jadi pikir dampaknya bagi kita, kita juga muslim tapi minoritas yeyeyeye ngat itu tolong sebarkan

    ReplyDelete
  3. Anda luar biasa Pak Koesmiadi... Saya tertarik sekali. Ingin sekali suatu saat saya berkunjung ke papua. Insya Allah

    ReplyDelete
  4. Waktu ke Raja Ampat, saya tidak sempat mampir ke Doom. Walau terlewat ferry kami dari Sorong ke Waisai di Waigeo. Kalau ada lagi rejeki membawa saya ke Raja Ampat, pastilah saya akan mampir ke Doom untuk menyaksikan jejak Islam di Papua.

    Saya pernah jadi minoritas juga, Brother. Gak mesti malu. Islam itu anugrah. Kalau minoritas, artinya tak semua orang mendapatkan anugerah itu. Ini hanya terjadi bagi mereka yang mendapatkan hidayah saja. Seperti halnya orang tidak semua bisa ke Raja Ampat. Hanya mereka yang diberikan kesempatan dan kesehatan serta rejeki saja. So, itu mungkin yang perlu kita jadikan mindset. Tak perlu malu. Kita semua sama dalam hal ini.

    ReplyDelete
  5. Islam masuk di Kepulauan Raja Ampat pada abad ke 13 SM..... sebelum islam masuk di Raja Ampat nenek moyang kami uda islam tradisonal.....

    sekila info kalau mau meneliti di Raja Ampat ketemu aja dengan bapak MS. Mayalibit beliau ada keturunan Raja di Kepulauan Raja Ampat.

    ReplyDelete
  6. untuk bung Koesmiadi,,anda coba cermati fakta lapangan...jangan cuma telan2 berita mentah2..berita itu cuma kesimpulan...

    utk kasus Mayoritas menindas itu krn adanya tirani minoritas...

    anda bisa analitik Saja bukan percaya begitu saja...mayoritas Muslim itu berpaham “Lakum Dinukum Waliyadin”...adanya pertengkaran diantara Muslim dan Kristen karena Misionaris2..
    Anda jgn lupakan peraturan Perusahaan mereka yg beragama Kristen “JILBAB DILARANG”...saya percaya tidak asap kalau tidak ada api...begitulah dampak yg keluar...

    masalah Gereja di Bogor,,anda kurang jeli memperhatikan permasalahannya...pemerintah TIDAK MELARANG tp hny memindahkan tempat..kalau mereka TIDAK BERMASALAH tentu tidak akan mempermasalahkannya...

    bahkan hari libur kita,,mengambil hari ibadah khusus mereka,,hari Minggu..apa mereka mayoritas bisa melakukan hal tsb?? baru menguasai perekonomian sudah melarang karyawati BERJILBAB...

    berfikir kritis,,bukan cuma manut...saya tahu sifat2 mereka krn saya pernah dibesarkan dlm lingkungan Kristen taat...

    August 28, 2013 at 9:58 PM

    Please pr

    ReplyDelete