Lord of War

Jika Anda tertarik dan atau ingin belajar bisnis jual beli senjata, juga peralatan militer lainnya, mungkin film ini layak Anda tonton. Dalam film berdurasi 122 menit ini, Anda akan disuguhi akting Nicholas Cage yang memerankan seorang pedagang senjata bernama Yuri Orlov. Seorang Ukraina yang harus mengaku sebagai keluarga Yahudi Ukraina agar segala urusannya bisa berlangsung aman dan lancar.

Film dibuka dengan layar menampilkan gambar lautan selongsong peluru di mana Yuri Orlov dengan mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi, menenteng tas di tangan kiri, berdiri membelakangi kamera dengan angkuhnya. Kamera memutar ke depan Yuri yang kemudian berkata lugas dengan didahului senyum :
“Ada lebih dari 550 juta pucuk senjata api yang beredar di seluruh dunia. Itu berarti satu senjata api untuk setiap 12 orang di planet ini. Yang menjadi satu-satunya pertanyaan…(diseling menghisap rokok kretek) Bagaimana kita mempersenjatai yang sebelas orang lainnya…”
Lalu film menampilkan kisah perjalanan sebutir peluru dengan kaliber 7,62 x 39mm, dari lempengan logam kuningan, jadi selongsong, diisi dengan kepala peluru, berjalan di atas ban dan melewati pengawasan petugas Quality Control, masuk ke dalam peti kayu, hingga sampai ke tangan tentara Rusia lalu entah bagaimana tiba di tangan para pemberontak kulit hitam di Afrika, masuk ke dalam magasin 30 butir (sepertinya AK- 47 atau Avtomat Kalashnikova 1947, senjata otomatis paling favorit di kalangan gerilyawan dengan berat 4,3 kilogram), dibidikkan ke target dan terlontar dari laras senapan dari jarak sekitar 200 meter (jarak efektif jangkauan AK-47 sampai dengan 300 meter) hingga tepat melesak ke dalam otak seorang anak kecil, masuk tepat di tengah-tengah kening antara kedua mata dan, otomatis, menghancurkan tengkoraknya. Layar film kemudian menjadi gelap.
Dalam hitungan detik, layar menampilkan pemandangan laut dari atas secara ekstrem, menyorot Yuri Orlov dari jauh. Suara Yuri Orlov terdengar: “Jangan khawatir. Aku takkan bohongi Anda untuk membuat diriku terkesan baik. Aku Cuma bercerita pada Anda apa yang terjadi. Namaku Yuri Orlov. Waktu aku kecil keluargaku datang ke Amerika. Tapi tidak seluruhnya. Seperti kebanyakan orang Ukraina, kami berkumpul di Brighton Beach. Mengingatkan kami pada Laut Hitam. Aku segera sadar bahwa kami cuma pindah dari neraka satu ke neraka yang lain…”
Yuri Orlov terlahir dari sebuah keluarga Ukraina non-Yahudi. Nama aslinya pun sebenarnya bukan Yuri Orlov, namun tidak disebutkan siapa. Dia hanya berkata, “…Ada beberapa peristiwa di abad ke-20 dimana menjadi Yahudi adalah suatu keuntungan. Tapi di tahun 1970-an, untuk keluar dari Uni Soviet, keluarga kami harus pura-pura menjadi Yahudi. Sejak itu dalam hidupku kebanyakan menjadi haram...”
Yuri memiliki seorang adik lakilaki bernama Vitaly. Mereka berdua harus hidup dalam kepura-puraan menjadi satu keluarga Yahudi Ukraina di Little Odessa. Bahkan keluarga tersebut hidup dengan mengandalkan sebuah kedai kecil milik keluarga bernama Crimean yang dipenuhi dengan simbol Bintang David, tulisan Ibrani, dan Menorah. Sang ayah disebutkan terlalu menjiwai samarannya ini sehingga “lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi asli”. Bahkan lebih sering ke Sinagog ketimbang Rabi Yahudi sekali pun. Hal tersebut membuat isterinya yang Katolik menjadi senewen.
Suatu hari, saat sang ayah hendak pergi ke Sinagog, Yuri diperintahkan untuk memata-matai menu baru yang dimiliki oleh Palace, sebuah kedai makan saingannya yang berada tepat di seberang jalan. Saat di Palace itulah Yuri dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana dua orang anggota mafia dengan AK-47 tewas di tangan buruannya yang hanya bersenjatakan revolver. Di lantai restoran tersebut berserakan banyak selongsong peluru yang ditinggal begitu saja. Hal ini mengilhami Yuri untuk mulai berbisnis senjata. Sambil menatap Menorah, salah satu simbol Yahudi, Yuri memantapkan hatinya bahwa dia ditakdirkan untuk berbisnis senjata.
Hari Sabbath (Sabtu) berikutnya, bersama sang ayah, Yuri untuk pertama kalinya pergi ke Sinagog. “Aku ke Sinagog bukan untuk bertemu Tuhan, tapi untuk menemui Uzi buatan Israel.” Dari Sinagoglah Yuri mulai berdagang senjata. Awalnya menjual sepucuk Uzi 9mm made in Israel yang memang menjadi salah satu senjata api serbu jarak dekat yang diminati para mafioso.
Dari Sinagog, bisnis Yuri berkembang pesat, bahkan sudah melanglang antar benua. “Aku menjual Uzi buatan Israel kepada orang-orang Islam,” ujarnya. “Aku menjual peluru buatan komunis untuk orang-orang fasis… Aku bahkan mengirim kargo ke Afghanistan saat mereka melawan saudara-saudaraku orang Soviet.” Untuk memuluskan bisnisnya, Yuri harus menyuap para pejabat pemerintah, terutama para tentara. Sesuatu hal yang lazim di mana pun di dunia ini.
“Pertengahan 80-an, senjata-senjataku bermain di delapan zona pertempuran dari 10 zona pertempuran paling top di seluruh dunia.”
Bisnisnya lancar, Yuri menikahi seorang model cantik, hidup makmur, Vitaly pun direkrut sebagai orang kepercayaan walau kemudian mati tertembak. Film diakhiri dengan kalimat bijak yang keluar dari mulut Yuri yang berdiri di atas tumpukan selongsong peluru, persis saat awal film : “Kau tahu siapa yang akan mewarisi bumi ini? Pedagang senjata. Karena semua orang yang lain sibuk saling membunuh. Itu adalah rahasia untuk bertahan hidup. Jangan pernah berperang, terutama dengan dirimu sendiri…”

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Lord of War"

  1. copas ato resensi sendiri? kalo copas ya sertakan sumber donk.

    ReplyDelete